Disaat Tuan Putri Jatuh Cinta
PACARAN? HAHAHA. GAPERNAH.
TAPI... mungkin bisa dibilang aku pernah mendekatinya.
Dan kini aku menyesal,-
......
Aku terlalu malu jika mengatakan cinta yang terlanjur tumbuh sebelum nikah
adalah ujian, karena setiap hati pasti tahu itu lebih layak dikatakan sebagai
hukuman. Atas mata yang tak terjaga, jari yang tak tertahan, harap yang
berlebih, juga banyaknya percakapan dan pertemuan yang tak perlu antara dua
insan.
Maka jangan pernah menyalahkan Tuhan jika cinta akhirnya tak bersama atau
mengutuk takdir karena cinta berakhir sakit. Salahkan diri yang melanggar
batas, salahkan hati yang berharap lebih.
Sungguh tidak ada cinta sejati tanpa pernikahan, cinta sebelum halal
hanyalah nafsu yang minta dimanjakan. Semakin dituruti semakin banyak maunya. Semakin
diumbar semakin galau hatinya. Percayalah, melepaskan sesuatu yang tak halal
akan menuntun hati bertemu cinta sejati, cinta yang direstui agama dan negara.
Aku tak pernah mencela cinta dalam diam. Tapi sesuai pengalaman pribadi
maupun curhatan banyak hati, hanya sedikit yang mampu melewati cinta dalam diam
dengan hati yang selamat. Kebanyakan tidak mampu mengendalikan harap apalagi
saat cinta akhirnya tak bersama.
Untuk itu, jika belum mampu melangkah jauh kepelaminan maka ada baiknya
menghapus rasa yang telah terpatri dalam hati. Agar hatimu bebas tak terikat.
Tidak galau memikirkan seseorang yang boleh jadi malah sedang pikirkan orang
lain. Tidak hampa akibat teringat dia yang belum tentu menjadi jodoh.
-Apa Kabar Rindu
Aku tak mau mencintai dalam diam lagi, karena terluka dalam diam ternyata
lebih perih.
Bersama ini secara resmi kulepaskan, segala perasaan yang sudah coba kulepaskan
hampir tiga tahun silam. Tapi mungkin saat itu aku tak sungguh, sehingga mudah
saja bagimu untuk kembali siggah.
Mulai saat ini aku akan berhenti menoleh lagi padamu.
Setelah spasi cukup panjang, aku pikir sudah tak apa, tapi aku salah, pesonamu dari
berbagai sisi masih terlalu kuat untuk dapat ditaklukkan seorang tuan putri
gadungan sepertiku. Nama panggilan yang kuberikan padamu yang seharusnya dapat
menjadi pengingatku nyatanya sama sekali tidak membantu 'pak'.
Tapi sekarang, sungguh, aku akan berhenti berharap kau
menghubungiku setiap malam untuk membahas pertanyaan-pertanyaan recehku,
mendengarkan keluhanku, juga curhatan-curhatanku
yang sengaja kubuat rumpang. Percakapan
malam itu selalu menuai harap, kita berbagi cerita sebelum terlelap, melalui
puisi, lilin, bulan, bintang juga matahari. Melalui kelinci dan ikan yang tak
ditakdirkan sejalan.
Aku akan berhenti membenarkan langkah salah yang ku
ambil. Aku akan berhenti mencari perhatianmu lewat sebagian story-storyku . Aku akan
berhenti mengulik-ngulik segala informasi tentangmu dari orang-orang terdekatmu.
Aku akan menutup telinga manakala ada orang yang lucunya memberikanku informasi
tetangmu bahkan tanpa kuminta. Aku akan berhenti kepo tentang hidupmu, tentang siapa
saja gadis yang berada di lini chat mu, lalu siapa saja yang berhasil mampir ke
hatimu, mungkinkah salah satunya aku?. SALAH SATU : )
Aku akan berhenti baper dan menafsirkan kata-katamu
kedalam sisi yang berbeda, kedalam makna lain sesuai keinginanku. Aku akan
berhenti meminjam namamu untuk kuperbincangkan bersama Rabb-ku (dalam rangka meminta mu pada Nya). Tapi tenang
saja, aku tak akan berhenti mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untukmu
dimanapun kau berada dan dengan siapapun kau nantinya.
Aku akan berhenti mencari tahu apakah kau masih ada
dibumi. Berharap suatu hari nanti aku bisa menculikmu agar bisa kuajak tinggal
di planet kuningku, pergi meninggalkan bumi yang semakin tua, yang agaknya
tidak menghendaki kita bersama.
Oh, bukan bumi, tapi kamu.
Sampai detik ini dan seterusnya, senang bisa (sekedar)
mengenalmu.
pemilik nama tersingkat. A😇
🙈 🙈 🙈
Dengan mata yang masih saja antusias jika diajak
membahas tentangmu,
At Thur, 31-1-2019, pukul 00:12 WIB


Komentar
Posting Komentar