Pilah-Pilih (Lekas Tuntas Jangan Berdalih)

[Pilah-pilih.
Lekas Tuntas Jangan Berdalih]

Disuatu waktu, aku menata batu berwarna warni dihadapanmu yang sedang sibuk membetulkan sepatu sebelum menginjakkan kaki ke kamar-kamar pasien baru.

Mass... Oyy!!
Lihat ini, ada batu putih yang kucongkel dari bukit kapur sirih.

Ada batu merah muda yang kudapatkan saat jamuan makan malam bersama Duchess of Sussex, Meghan Markle sebelum mengumumkan mundur dan mengucapkan daaaadaa.

Ada batu permata biru berinti kuning yang kuperoleh dari pemberian leluhurku yang bening bening. (semoga menurun ke wajahku, aamiin)

Ada batu berwarna coklat dari para rektorat yang tak suka lihat aku dan kamu makan bakso urat.

Ada batu abu abu dengan bercak merah darah dari sang dalang, sebagai penghargaan karena aku menononton pertunjukannya di baris belakang. Syukur-syukur aku tak pulang, yakann?

Ada batu berwarna oren hadiah dari tukang pos O-Ranger karena aku begitu kuat hilangkan mager mengirim surat dan buku-buku untuk menemani perjuanganmu agar tidak keblinger.

Ada batu bata merah yang sepertinya lebih cocok untuk menimpuk mantanmu yang suka marah-marah dan membuat ulah.

Ada juga batu yang kudapatkan saat berenang bersama bidadari cantik di kalibokong saat aku sedang bengong, yang hitam berlumut ini paling menarik mataku, kupikir sudah barang tentu, tapi air mukamu kala itu seolah tak setuju. kamu memintaku memilih satu sambil menyodorkan sesuatu.

Apa ini? ...tunggu dulu....

Biarpun aku perempuan, tentu aku ini punya otoritas terhadap diriku sendiri, biar saja kupilah dulu apa yang ingin kupilih, karena menentukan pilihan meski cukup melelahkan pikiran tetap tidak boleh serampangan. Seperti hal nya memilih calon suami, rasanya memilih kemudian menggenggam satu batu bisa melahirkan banyak resiko, terlebih bagiku yang tinggal di dunia mikro. Tapi semua itu hanyalah sebatas kemungkinan-kemungkinan yang tak ingin kusemogakan.
Toh ini hanya sebuah batu? Iyakah? Menurutku lebih dari itu.





"Sebenarnya semakin kita di bebaskan maka semakin terbataslah kita. Kita tidak ada ikat, tidak paham sekat. Keadaan itu justru membuat kita menciptakan sekat imajinasi dari bayang bayang dan ketakutan yang ada dikepala kita sendiri" - Puput 2020

"Jangan ditahan, bebaskan, lepaskan. Tapi tetap balik ke prinsip dan komitmen kita diawal"

"Mau dibebaskan seperti apa? Kita ini mau jadi apa Nuw?"
"Seperti ini, Mendung yang tertahan dipelupuk matamu. Seteduh dan setulus hujan penyemai kasih yang memeluk ujung akar padimu" .
"Inuww"
"Lembut tapi kuat, konsisten, isiqomah biar bisa ngelubangin batu yang satu itu :)"
"Jadi kita adalah hujan?"
"Bukan, kita adalah air. Tetap bisa jadi hujan, tapi tidak harus jadi hujan"

Aku menikmati penjelasanmu juga belaian lembut tanganmu di kepalaku. Aku suka bertanya, maka terus kulanjutkan pertanyaanku

"Lalu, Kenapa kita ada disini Inuw?"
"Karena Tuhan yang memilih. Tuhan bukan mengambil, tapi menukar. Jangan sedih, sudah ada gantinya kan? "

Aku terdiam dan kami saling tatap untuk waktu yang lama. Perbincangan berlanjut lewat debar dan getar.

"Aku akan memutuskan sekarang" kukatakan dengan mantap dan lantang. karena ku sudah tak tahan jika tatapan ini diterus teruskan. Cintamu padaku sejak 18 tahun lalu telah memberatkan timbangan pertimbanganku.

"Yang mana?" tanyamu

"Yang ini, yang kau tunjukkan, yang kau ingatkan, batu dari leluhurku sendiri. Aku senang bisa menjadi air yang tenang tapi punya tujuan, menembus kerasnya batu, meresapi tanah para petani, mengaliri sungai penuh ikan, dan menguap keudara, bersamamu nuuu "

Barusan kusadari, Senyummu mengembang layaknya roti yang baru matang, sayang. Jemari kita saling terkait bahkan setan penggoda lari terbirit-birit.

Komentar

Postingan Populer