Tempe Jadi Saksinya
-Aku paling suweneng nek nguasi wong lanang lha sarungan ngono.
-iyoo heee. Opomaneh nek mari jum'atan ngonoiku lha ketok ruesik kok raine.
-mbuh ueleke koyo opo iku lho nek pas ngono mesti ketok bercahaya, opo mnh pas nggawe koko, peci, sarungan ireng. Ya Allahhhh!!!
Sepenggal obrolan mereka berhasil menarik perhatian saya yang sedang menggado tempe di kantin. Mulai dari Whatt!! Oh okey, sampe okelah ini cuman masalah selera.
Dulu saya sering banget baca pola kalimat ini dari teman-teman semasa masih MTs dan MA. Iya, saya pikir itu cuman pola pikir teman-teman di lingkungan saya saja yang notabenenya memang menyukai hal-hal yang dibungkus cover berbau agamis, saya pikir cuma bentuk dari pemikiran anak-anak yang belum mengerti sepenuhnya dan masih mengada-ada dan tidak serius dengan ucapannya. Tapi nyatanya saya menemukannya kembali di lingkup pergaulan mahasiswa yang 'sudah waktunya memikirkan untuk menikah' . Jadi kalau pernyataannya seperti itu, bisa jadi ini lampu ijo buat kamu, terlepas bagaimanapun sikapmu, seberapapun pemahaman agama yang kamu miliki, bahkan jika kamu terlibat dalam kasus asusila sekalipun yang penting hari jum'at usahakan mampang dimata mereka, berangkat sholat jum'at dengan koko, peci, dan sarung itu sudah sangat luarbiasa (haha) nya.
Laki-laki yang pakai atribut keagamaan akan terlihat lebih menawan untuk beberapa kalangan, seharusnya ini juga berlaku untuk perempuan. Tapi gapernah saya dengar tuh ada laki-laki yang dipaksa atau bahkan dibuly ketika tidak memakai atribut tertentu diwaktu tertentu, bahkan sampai urusan sholat jum'at yang menghadap Tuhan saja masih ada mas-mas yang pakai celana jeans, baju kaos, dan itu bebas.
Apa ini faktor laki-laki yang tidak layak dimarahi dan tidak cocok dibully? Karena biasanya kan laki-laki yang memarahi dan membuly~ jadi yang gapernah salah ini siapa? ~ perempuan dilabeli "ga pernah salah" bukan sebagai penghormatan, tapi sebagai alat laki-laki untuk menjatuhkan ketika memang mereka berada di posisi yang benar.
Ini rahasia umum gasih? . "Ladies first" juga sama saja, digunakan seolah-olah sebagai penghormatan padahal aslinya cuman dijadiin tameng karena laki-lakinya yang cupu atau malas maju.
Kamu ga gitu kan mas?
Mba kalis pernah bilang kurang lebih seperti ini : Orang lain mungkin memilih cara hidup yang berbeda dengan kita, ini realitas dunia, sepanjang mereka tidak berbuat kriminal, tidak berbuat sesuatu yang melanggar hukum, tiap warga negara punya hak untuk melakukan apa yang mereka mau. Intinya gaada yang harus memaksa dan dipaksa. Menasehatipun harus pakai etika. Jika kamu ga nyaman ngelihat orang berpenampilan urakan, bertato, rambut gondrong, gimbal dll, yang salah itu matamu, bukan mereka.
Jadi mata kamu yang musti belajar lagi menghormati perbedaan.
Dalam sebuah seminar yang saya ikuti di Montong, Bapak DPR pernah berkata
"Manusia itu hitam-putih. Sementara yang menentukan warna adalah Tuhan. Ketika kita memandang manusia lain sebagai hitam dan putih, maka tidak ada jarak diantara kita dengan mereka"
Tapi kalau kita bicara soal selera Ukhtea2, mas-mas bersarung berpeci dan berkoko tetap yang terdepan.
Kamu diakui, kamu idaman mereka lho mas, (tapi ya saran saya diimbangi dengan isi, sholeh ritual sholeh sosial, jangan covernya saja). Kalo nanti mereka ada yang menolakmu dengan alasan kamu 'elek' coba lagi yaa pakek koko, peci, dan sarung.
[TEMPE JADI SAKSINYA]
-iyoo heee. Opomaneh nek mari jum'atan ngonoiku lha ketok ruesik kok raine.
-mbuh ueleke koyo opo iku lho nek pas ngono mesti ketok bercahaya, opo mnh pas nggawe koko, peci, sarungan ireng. Ya Allahhhh!!!
Sepenggal obrolan mereka berhasil menarik perhatian saya yang sedang menggado tempe di kantin. Mulai dari Whatt!! Oh okey, sampe okelah ini cuman masalah selera.
Dulu saya sering banget baca pola kalimat ini dari teman-teman semasa masih MTs dan MA. Iya, saya pikir itu cuman pola pikir teman-teman di lingkungan saya saja yang notabenenya memang menyukai hal-hal yang dibungkus cover berbau agamis, saya pikir cuma bentuk dari pemikiran anak-anak yang belum mengerti sepenuhnya dan masih mengada-ada dan tidak serius dengan ucapannya. Tapi nyatanya saya menemukannya kembali di lingkup pergaulan mahasiswa yang 'sudah waktunya memikirkan untuk menikah' . Jadi kalau pernyataannya seperti itu, bisa jadi ini lampu ijo buat kamu, terlepas bagaimanapun sikapmu, seberapapun pemahaman agama yang kamu miliki, bahkan jika kamu terlibat dalam kasus asusila sekalipun yang penting hari jum'at usahakan mampang dimata mereka, berangkat sholat jum'at dengan koko, peci, dan sarung itu sudah sangat luarbiasa (haha) nya.
Laki-laki yang pakai atribut keagamaan akan terlihat lebih menawan untuk beberapa kalangan, seharusnya ini juga berlaku untuk perempuan. Tapi gapernah saya dengar tuh ada laki-laki yang dipaksa atau bahkan dibuly ketika tidak memakai atribut tertentu diwaktu tertentu, bahkan sampai urusan sholat jum'at yang menghadap Tuhan saja masih ada mas-mas yang pakai celana jeans, baju kaos, dan itu bebas.
Apa ini faktor laki-laki yang tidak layak dimarahi dan tidak cocok dibully? Karena biasanya kan laki-laki yang memarahi dan membuly~ jadi yang gapernah salah ini siapa? ~ perempuan dilabeli "ga pernah salah" bukan sebagai penghormatan, tapi sebagai alat laki-laki untuk menjatuhkan ketika memang mereka berada di posisi yang benar.
Ini rahasia umum gasih? . "Ladies first" juga sama saja, digunakan seolah-olah sebagai penghormatan padahal aslinya cuman dijadiin tameng karena laki-lakinya yang cupu atau malas maju.
Kamu ga gitu kan mas?
Mba kalis pernah bilang kurang lebih seperti ini : Orang lain mungkin memilih cara hidup yang berbeda dengan kita, ini realitas dunia, sepanjang mereka tidak berbuat kriminal, tidak berbuat sesuatu yang melanggar hukum, tiap warga negara punya hak untuk melakukan apa yang mereka mau. Intinya gaada yang harus memaksa dan dipaksa. Menasehatipun harus pakai etika. Jika kamu ga nyaman ngelihat orang berpenampilan urakan, bertato, rambut gondrong, gimbal dll, yang salah itu matamu, bukan mereka.
Jadi mata kamu yang musti belajar lagi menghormati perbedaan.
Dalam sebuah seminar yang saya ikuti di Montong, Bapak DPR pernah berkata
"Manusia itu hitam-putih. Sementara yang menentukan warna adalah Tuhan. Ketika kita memandang manusia lain sebagai hitam dan putih, maka tidak ada jarak diantara kita dengan mereka"
Tapi kalau kita bicara soal selera Ukhtea2, mas-mas bersarung berpeci dan berkoko tetap yang terdepan.
Kamu diakui, kamu idaman mereka lho mas, (tapi ya saran saya diimbangi dengan isi, sholeh ritual sholeh sosial, jangan covernya saja). Kalo nanti mereka ada yang menolakmu dengan alasan kamu 'elek' coba lagi yaa pakek koko, peci, dan sarung.
[TEMPE JADI SAKSINYA]



Komentar
Posting Komentar